Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

Cinta Rabiatul Adawiyah…


 Mampukah kita menjejaki langkah srikandi cinta ini...

Rabi’ah Al-Adawiyah, adalah seorang ahli sufi wanita yang zuhud dalam hidupnya. Suatu hari datanglah tiga orang lelaki yang ingin melamarnya sebagai isteri. Mereka itu Hasan Bisri, Malik Bin Dinar, dan Tsabit Al-Benany.

“Rabi’ah, Pilihlah Satu Di Antara Kami Sebagai Suamimu, Kerana Kahwin Itu Adalah Sunnah Rasul,” Kata Mereka.

Tanpa menjawab ya atau tidak, Rabi’ah hanya menyatakan beberapa permasalahan dirnya. “siapa yang boleh memecahkan permasalahan itu dialah calon suami saya”.

Kepada Hasan, Rabi’ah Bertanya: “apa yang anda jawab bila ada seseorang berkata bahwa nanti di hari perjanjian saya tidak peduli terhadap orang-orang yang masuk neraka dan tiada peduli terhadap orang-orang yang masuk syurga.termasuk kelompok manakah saya nanti?”
Mendengar pertanyaan itu Hasan hanya bisa menjawab: “saya tidak tahu”.

Rabi’ah Lalu Bertanya Lagi: “ Malaikat Telah Membentuk Aku Sewaktu Aku Di Dalam Kandungan. Apakah Aku Menjadi Orang Yang Berbahagia Atau Orang Yang Sengsara?”

“Saya tidak tahu,” jawab Hasan lagi.”
Kembali Rabi’ah mengajukan pertanyaan lagi kepadayang melamarnya itu. “bila ada orang berkata kepada seseoran agar jangan takut dan jangan bersedih,sementara kepada yang lain ia mengatakan mereka tidak berhak untuk bergembira,maka termasuk kelompok manakah aku ini?”

Hasan menjawab lagi: “tidak tahu.”
Maka Rabi’ah melanjutkan pertanyaan lagi: “kuburan boleh menjadi taman syurga dan boleh menjadi liang masuk neraka. bagaimana kuburan saya nanti?”

Menjawablah hasan seperti jawapan sebelumnya: “saya tidak tahu.” Belum puas dengan pertanyaan yang telah diajukan, Rabi’ah mengajukan pertanyaan lagi kepada Hasan: “pada suatu hari ada wajah-wajah yang putih, dan ada pula wajah yang hitam. Bagaimana wajah saya nanti?”
“tidak tahu,” jawab Hasan pula.

Kembali Rabi’ah al-adawiyah mengajukan pertanyaan walaupun orang yang ditanyai selalu menjawab dengan perkataan “saya tidak tahu.
”Bila hari qiamat ada orang berseru bahawa ketahuilah si fulan telah mendapatkan kebahagiaan dan si fulan bin fulan sangat sengsara.maka termasuk golongan mana aku ini,” tanya rabi’ah.

“saya tidak tahu.” jawab Hasan Bisri untuk kesekian kalinya.
Mendengar serentetan pertanyaan rabi’ah al-adawiyah yang mengandungi hikmat itu, menangislah ketiga-tiga lelaki yang ingin melamarnya itu lalu meninggalkannya.

Selasa, 31 Januari 2012

NIAT, CARA, TUJUAN


              Suatu hari terjadi suatu pertempuran diantara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu selesai seketika dan kedua pihak pulang ke markas masing-masing.
            Disana Nabi Muhammad SAW dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berrlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di mata. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari mereka yaitu Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar menerkam mangsanya. Dengan keberaniaannya itu, dia telah menjadi buah bibir ketika itu. “tidak seorang pun diantara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman”, kata salah seorang sahabat. Mendengar perkataan itu Rasulullah SAW menjawab “sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka”.
            Para sahabat menjadi heran mendengar jawaban Rasulullah SAW itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah membela Islam masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan satu sama lain ketika mendengar jawaban Rasulullah itu. Rasulullah sadar para sahabatnya heran dengan ceritanya, lantas beliau berkata “Semasa Qotzman keluar dari medan perang, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya pedangnya keatas tanah, kemudian pedang itu dihadapkan ke dadanya dan terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya.”
“Dia melakukan perbuatan itu adalah karena dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan karena berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihat keadaannya yang parah, banyak orang yang menyangka bahwa dia akan mesuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka.”
Menurut Rasulullah, sebelum mati Qotzman mengatakan “Demi Allah aku berperang bukan karena agama tetapi hanya sekedar menjaga kehormatan kota madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kaumku. Kalau tidak karena itu”, aku tdak akan berperang.”
***
Sahabat, inilah salah satu kisah yang menyadarkan kita bahwa Niat, cara, dan tujuan adalah perkara yang penting dihadapan Allah SWT. Betapapun bagus tujuan kita, tetapi jika tidak dibarengi dengan niat Lillahi Ta’ala, maka apa yang kita lakukan tidak akan bernilai dihadapan Allah SWT. Mari luruskan niat, sama kan cara untuk menggapai satu tujuan!
Tetap cerdas, ikhlas, istiqomah Allahu Akbar!!!

Rabu, 18 Januari 2012

BILA HATI SEBENING EMBUN

         Rasa takjub kerap menjalari hati setiap kulihat air bening itu berkilauan di dedaunan atau rerumputan saat matahari mulai menyapa pagi. Biasanya segera kuhampiri benda-benda di mana bulir memukau itu berada. Kutatap lama atau terkadang muncul isengku, menepuknya. Bersorak riang hati bila si bulir bening bernama embun itu kutemukan menempel di daun talas. Rasa heran sering melingkupi lipatan-lipatan otakku saat melihat daun talas yang tetap terlihat kering walau disinggahi sang embun. Kugerak-gerakkan daun talas itu, dan sang embun mengikuti gerakan itu dengan lincah.

        Selarik memori di masa kecil kala kulihat embun, ternyata tak berubah hingga kini. Sang embun selalu berhasil memukau mataku. Entahlah, keberadaannya di antara dedaunan, bunga maupun rerumputan selalu mengalirkan kesejukan di mataku dan kilau beningnya yang memantulkan cahaya sebagaimana cermin, menghadirkan rasa takjub memenuhi rongga hati.

       Saudaraku, adakah engkau pun mengalami hal yang sama dengan yang kurasakan kala memandangi embun? Kalau ternyata engkau belum pernah memperhatikannya, cobalah sekali waktu. Engkau bisa menemukan wajah sang embun di pagi hari atau bisa saja dengan browsing foto-fotonya, dan rasakanlah sensasinya.

       Bila kita perhatikan bagaimana embun terbentuk, kurasa ada sesuatu yang menarik untuk kita pelajari darinya. Embun biasanya terbentuk dengan baik pada malam hari yang cerah dan tenang. Menurut teorinya, embun terbentuk ketika udara yang berada di dekat permukaan tanah menjadi dingin mendekati titik di mana udara tidak dapat lagi menahan semua uap air. Kelebihan uap air itu kemudian berubah menjadi embun di atas benda-benda di dekat tanah. Embun juga terbentuk dengan baik ketika kelembaban tinggi.

       Coba kita perhatikan lagi, jika kita ibaratkan kehidupan embun itu pada manusia, kita bisa menemukan orang-orang yang menyejukkan hati kita biasanya bisa dipastikan orang tersebut memiliki hati sebening embun. Dia dapat kita pastikan adalah orang-orang yang sanggup mengendalikan hatinya untuk selalu dalam “suhu yang dingin” alias tenang dalam menghadapi segala hal. Dia akan selalu berusaha mengendalikan suhu hatinya itu lebih dingin dari keadaan yang berkecamuk di sekitarnya sehingga kita bisa merasakan hatinya bening bagai embun..

      Kebeningan hatinya ibarat cermin yang memantulkan cahaya-Nya. Tutur kata dan tingkah laku orang-orang demikian biasanya tak beranjak dari lingkar kebaikan yang tak dapat terbendung lagi pada pribadinya sendiri sehingga orang-orang di sekitarnya akan merasakan kesejukan dari kebeningan embun hatinya. Seperti dikatakan Imam Ghazali, bahwa hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya.

      Orang-orang berhati sebening embun, mereka akan mampu melihat dunia dengan terang benderang karena di anugerahi bashirah (pandangan hati) yang selalu menuntunnya berbuat kebajikan. Dan bashirah akan memunculkan sifat seperti keberanian, murah hati, penolong, dapat menahan nafsu, sabar, penyantun, konsisten, suka memaafkan, gembira, senang bekerja sama dengan orang lain, tenang, dan sifat-sifat mulia serta terhormat lainnya.

***

            Pernah dalam lembar hidupku menjumpai dan bersahabat dengan seorang akhwat yang dalam rasaku hatinya bening bagai embun. Penampilannya sangat bersahaja namun orang-orang termasuk diriku, suka berinteraksi dengannya. Tak pernah ia berkeluh walaupun di usianya yang beranjak senja belum bertemu jodoh. Hari-harinya ia warnai dengan kesibukan menebar kebaikan mulai untuk kalangan anak-anak, dewasa hingga para orang tua. Ya, ia seorang kepala sekolah di sebuah TK, ia pun memimpin lembaga tahsin Al-Qur’an untuk muslimah. Tak berhenti di situ saja, ia juga aktif mengisi halaqah-halaqah dan taklim serta ia masih sempatkan waktunya mengajar tahsin di beberapa instansi. Tak jarang, ia menjadi muara curhat dan keluh para peserta didiknya.

       Setelah Allah memperkenankan doanya mendapatkan pasangan untuk mendampingi gerak juangnya, ia tetap dengan segala aktivitasnya itu serta tetap berpribadi sebening embun. Sehingga tak mengherankan saat Allah memanggilnya dalam usia pernikahan yang masih terbilang baru, pelayat yang menyayangi dan merasa kehilangan dirinya menyemut saat menghantar jenazahnya.

***

       Menjadi pribadi berhati sebening embun bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan riyadhah/latihan yang terus menerus untuk menempa diri dan mengendalikan suasana hati ketika berhadapan dengan berbagai persoalan hidup serta mengendalikan gejolak jiwa saat berhadapan dengan godaan nafsu. Tetapi yakinlah saudaraku, bila tempaan demi tempaan itu membuat hati kita menjadi sebening embun yang dirasakan sejuknya oleh sekitar, maka bisa jadi akhir hidup kita bisa seindah muslimah tersebut.


Senin, 16 Januari 2012

AMBILLAH MOTIVASI DARI AIR

Saudara-saudaraku yang haus motivasi, segalanya tercipta penuh hikmah ditujukan untuk Bani Adam, begitupun air dengan berbagai sifatnya. Bukankah kita terlahir dalam kesucian, sejernih air yg memancar dari sumbernya?
     Berjalanlah di atas roda kehidupan, tanpa merendahkan diri dan tanpa menyombongkan, bukankah air yg tenang permukaannya selalu sama rata, sisi satu tidak lebih tinggi atau rendah dri yg lain? Jauhilah sifat pasif, bukankah beberapa penyakit lebih condong pada air yg menggenang? Bagai air yang mengisi tiap sudut ruang-ruang kosong, hendaknya kita selalu menghiasi waktu dengan menunaikan semua kewajiban, fleksible, cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Dahulukanlah pilihan yang lebih penting dari yang penting dalam menunaikan kewajiban, seperti air, selalu memenuhi ruang dengan mendahulukan bagian dasarnya.
Letakkan langkah demi langkah menuju tujuan hakiki, bak air dari hulu yang sukses sampai ke hilir. Bersabar, pantang menyerah, diantara sifat air yang tercermin pada ombak yang tak kenal lelah menghantam kokohnya batu karang. Ketika sebuah batu mencebur dalam kolam air, perhatikan setiap jengkal permukaan ikut bergetar, dan akan kembali tenang secara bersamaan, hal ini menggambarkan kerjasama, kepedulian, kepekaan, cinta dalam ikatan sosial. Ketika air menguap, terdapat pula satu pelajaran berharga, bahwa suatu saat kita pasti 'kan kembali pada sang pencipta.
Rupa wajah yang begitu tampan dan cantik, keluarga yang begitu dicintai, tanah, rumah, mobil, perabot yang serba wah, semua akan ditinggal sama sekali, kecuali tiga, amal jariyah, anak sholeh, dan ilmu yang bermanfaat. Wahai tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan percuma. Maha Suci Engkau, maka jauhkan kami dari azab neraka.

Minggu, 27 Februari 2011

Tsabit dan Sebuah Apel

Seorang lelaki shalih bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba ia melihat sebuah apel terjatuh di luar pagar suatu kebun buah-buahan. Melihat apel merah yang ranum itu tergeletak di tanah, terbitlah air liur Tsabit. Apalagi hari begitu panas dan Tsabit tengah kehausan. Tanpa berpikir panjang Tsabit memungut dan memakan apel itu. Tapi baru setengah memakannya Tsabit ingat: apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin dari pemiliknya.
Tsabit pun bergegas masuk ke dalam kebun itu. Ia hendak menemui si pemilik kebun dan meminta si pemilik menghalalkan sebuah apel yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya,” kata Tsabit kepada orang itu. Namun ornag itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya orang yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebun ini.”
Tsabit pun bertanya, “Di mana rumah pemilik kebun ini? Aku harus menemuinya untuk meminta ia menghalalkan apel yang telah kumakan ini.”
“Untuk sampai ke sana engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam,” jawab si penjaga kebun.
“Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah saw. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya: ‘Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka’,” tukas Tsabit tegas.
Tsabit pergi ke arah yang ditunjuk penjaga kebun. Ia menuju rumah si pemilik kebun. Dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Si pemilik rumah membukakan pintu. Tsabit langsung memberi salam dengan sopan.
“Wahai Tuan, saya terlanjur memakan setengah dari sebuah apel yang jatuh ke luar dari kebun milik Tuan. Karena itu, saya datang untuk meminta Tuan menghalalkan apa yang sudah saya makan itu.”
Lelaki tua si pemilik kebun itu mengamati Tsabit dengan cermat. Lalu dia berkata, “Tidak! Aku tidak akan menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.”
Tsabit khawatir tidak dapat memenuhi syarat itu. Namun, ia tidak punya pilihan. “Apa syarat itu, Tuan?”
Si pemilik kebun menjawab dengan jawaban yang di luar dugaan. “Engkau harus mengawini putriku!”
Tsabit bin Ibrahim terkejut. “Hanya karena aku makan setengah buah apel yang jatuh keluar dari kebun Tuan, saya harus mengawini putri Tuan?” Tsabit membuat pertanyaan dengan warna penuh keheranan.
Tapi si pemilik kebun itu tidak peduli. Bahkan ia menambahkan, “Engkau juga harus tahu. Putriku punya kekurangan. Ia buta, bisu, dan tuli. Ia juga lumpuh.”
Tsabit terkejut. Haruskah ia menikahi perempuan seperti itu hanya karena ia memakan sebuah apel tidak dihalalkan baginya?
Si pemilik kebun itu kembali menegaskan sikapnya, “Aku tidak akan menghalalkan apel yang engkau makan kecuali engkau penuhi syarat itu.”
Tsabit yang tidak ingin di tubuhnya ada barang haram dengan tegas menjawab, “Baik, aku terima karena aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah meridhaiku. Mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala.”
Pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi untuk menyaksikan akad nikah itu. Setelah akad nikah selesai, Tsabit dipersilakan menemui istrinya. “Assalamu”alaikum!” Tsabit tetap mengucapkan salam, walau tahu istrinya tuli dan bisu.
Tsabit kaget. Ada suara wanita menjawab salamnya. Tsabit masuk menghampiri wanita itu. Wanita itu mengulurkan tangan menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut.
Setelah duduk di samping istrinya, Tsabit bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa kamu buta. Mengapa?”
Wanita itu menjawab, “Ayahku benar. Aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah.”
Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan kamu tuli, mengapa?”
“Ayahku benar. Aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat Allah ridha,” jawab wanita itu. “Ayahku pasti juga mengatakan kepadamu aku bisu dan lumpuh, bukan?”
Tsabit mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya itu.
“Aku dikatakan bisu karena aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah saja. Aku dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang membuat Allah gusar.”
Tsabit begitu bahagia. Ia mendapat istri yang shalihah. Apalagi wajahnya bagaikan bulan purnama di malam gelap. Dari pernikahan ini Tsabit dan istrinya dikaruniai seorang putra yang kelak menjadi ulama yang menjadi rujukan dunia: Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit.



Source : dakwatuna.com


Jumat, 18 Februari 2011

ISLAM KOK PACARAN?!

oleh Aliman Syahrani
Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.
Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.
Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).
Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?
Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !
Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).
Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."
Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atawa memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya." Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi "dunia berpacaran" mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi "perahu pacaran" itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !
Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.

Ijtihad dalam Islam

Definisi Ijtihad
Menurut bahasa berarti bersungguh-sungguh.
Menurut istilah berarti sebuah usaha sungguh-sungguh seorang mujtahid (orang-orang yang melakukan ijtihad).
Ijtihad ialah mencurahkan segala fikiran dalam mencapai hukum syara dengan jalan mengambil kesimpulan dari qur’an dan sunah.

Ciri – Ciri Ijtihad
Ijtihad tidak keluar dari Alquran dan Hadits.
Menggunakan pendekatan akal.
Ijtihad merupakan produk akal sehingga memiliki keterbatasan – keterbatasan.
Hasilnya bersifat relatif dan temporal.
Setiap ijtihad tidak dapat dinilai benar atau salah.
Rasulullah SAW bersabda “Hakim apabila berijtihad kemudian mencapai kebenaran, maka ia mendapat dua pahala. Apabila ia berijtihad kemudian tidak mencapai kebenaran, maka ia mendapat satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ijtihad dapat dilakukan secara perorangan (Ijtihad Fardi) juga secara kelompok(Ijtihad Jama’i).
Para ulama berbeda pendapat tentang siapa saja yang boleh berijtihad.

Tujuan Ijtihad
Mencapai sebuah keputusan atau kesimpulan hukum syarak mengenai suatu kasus hukum yang penyelesaiannya yang belum tertera di dalam Alquran dan Hadits.

Kapan Ijtihad Diperlukan?
Ijtihad diperlukan Ketika suatu kasus/kejadian membutuhkan penyelesaian yang penyelesaiannya belum tertera di dalam Alquran dan Hadits.

Kedudukan Ijtihad
Ijtihad pada dasarnya tidak dapat melahirkan keputusan yang mutlak.
Suatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad, bersifat relatif dan temporal.
Ijtihad tidak berlaku dalam urusan ibadah mahdah. Ibadah mahdah hanya diatur oleh Alloh dan Rasulullah.
Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan Alqur’an dan hadits.
Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor (motovasi, akibat, kemshlahatan umum, nilai-nilai).

Metodologi Ijtihad

• Qiyas
• Istihsan
• Maslahah murshalah
• Urf (Adat kebiasaan)

Qiyas
Qiyas adalah mempertemukan suatu perkara yang tidak ada nashnya dengan hukum yang sudah ada nashnya karena persamaan ‘illat hukum (maksud dan tujuan hukum) dari kedua peristiwa itu.
Istihsan
Istihsan merupakan perluasan dari qiyas. Istihsan adalah meninggalkan qiyas khafi (qiyas samar-samar) untuk menjalankan qiyas khafi (qiyas samar-samar) atau meninggalkan hukum kulli (hukum umum) untuk menjalankan hukum istisna’i (pengecualian) disebabkan ada dalil logika yang membenarkannya.
Maslahah murshalah
Maslahah murshalah adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada nashnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemadharatan.

Urf (Adat kebiasaan)
Urf (Adat kebiasaan) adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengna aturan-aturan prinsipal dalam alquran dan hadits.